Sabtu, 28 April 2012 - 15:14:56 WIB
Pesan Umah Bin Khotob Kepada Abu Ubaadah
Diposting oleh : Administrator
Kategori: Turorial - Dibaca: 1783 kali

Pesan Umar Bin Khotoh Kepada Abu Ubaadah Ibnu Jarraah

Oleh: Sabiq Almubarok Hafidhulloh

·         Bismillahirrohmanirrohim 
Muqoddimah
- Pengantar ( kisah penaklukan kota Eliya oleh Abu’Ubaadah ‘amr ibn Jarraah )
Tahun 15/16 H, panglima kaum muslimin Abu ‘Ubaidah ibn Jarroh menaklukan kota dimaskus, beliau mengirimkan surat kepada pembesar / penduduk kota eliya ( baitul maqdis ) mengajak mereka utk masuk agama islam, beliau memberikan tiga pilihan ; masuk islam, atau membayar jizyah –upeti-, atau berperang : “ bismillahirrohmanirrohmanirrohim. Min Abi ‘Ubaidah ‘Amr ibn Jarrah ilaa baathooriyati eliya wa sukaanihaa, fa inna nad’uukum ilaa sahaadati an laa ilaaha illalloh, fa in abaitum fa aqirru lanaa bi i’thooil jizyah, wa in abaitum, sirtu ilaikum bi qoumin, hum asyaddu hubban lill mauti minkum lil hayati wa syurbil khomri wa aklil hinjiir, tsumma laa arji’ ankum insyaa Allah hatta aqtula muqootilatakum wa asydiya dhorooriyakum “. Namun ternyata orang-orang salibis enggan untuk memenuhi seruan mulia tersebut, kemudian Abu ‘Ubaidah menugaskan salah seorang panglima kaum muslimin Sa’id ibn Zaid untuk mengurusi kota dimaskus, kemudian beliau berangkat sendiri menuju kota Eliya bersama pasukan kaum muslimin, kemudian mengepung kota Eliya. Dan terjadi pertempran berkali-kali yang dimenangkan oleh kaum muslimin. Dengan melihat kenyataan yang ada, pemimpin kota Eliya memutuskan untuk mengajukan perdamain dengan kaum muslimin, tapi dalam pengajuan tersebut, mereka minta satu persyaratan ; bahwa perdamaian tersebut harus ditandatangani oleh pimpinan kaum muslimin langsung – Umar ibn Khoththob rodiyallohu ‘anhu -. Dengan demikian Abu ‘Ubaidah mengirimkan surat mengkabarkan keadaan kota Eliya saat itu. Setelah ‘Umar ibn khoththob rodhiyallohu ‘anhu menerima surat dari Abi ‘Ubaidah lantas ia bermusyawarah dengan beberapa para sahabatnya, yang akhirnya ia menerima pendapat Ali rodhiyallohu ‘anhu; berangkat ke Eliya dengan sejumlah pasukannya.

·         Menjelang sampainya ia di kota Eliya, jalan yang ditempuh oleh Umr ibnul khoththob terhalang dengan genangan air, para panglima dan sebagian pasukan kaum muslilminpun sudah terlihat dari arah Umar ibn khoththob yang sedang menunggu kedatangannya, dan disebrang bagian yang lain terlihat panglima salibis dengan rengrengannya. Ketika Umar ibnul khoththob terhalang oleh genangan air, Umar ibnul khoththob langsung turun dan melepas kedua sandalnya, dan beliau melewati genangan air dengan tanpa beralaskan kaki, tangan yang satu menenteng sandal, dan yang satunya menuntun unta. Abu Ubaidah, melihat apa yang dilakukan oleh amirul mukminin, bergegas lari menuju ke beliau. Begitu sampai kehadapan Umar ibnul khoththob, seraya berkata : “ wahai kholifatul muslimin, pada hari ini engkau telah melakukan suatu perbuatan yang sangat hina di mata orang-orang nashrani, apa yang akan mereka katakan jika mereka melihat pemimpin kaum muslimin berjalan tanpa alas kaki, dengan menenteng sendal dan menuntun onta ? “. Kemudian beliu menjawab dengan suatu jawaban yang berhak untuk ditorehkan dengan tinta emas, beliau menjawab dengan mengangkat suaranya : “ Allah yaa Abaa ‘Uabaidah, lau ghoiroka yaquuluhaa, kalu selainmu yang mengatakannya, sungguh niscaya akan ku beri pelajaran “. Abu Ubaidah kembali bertanya; ” kenapa wahai amirul mukminin ? “ beliau menjawab : “ innakum kuntum adzallan naasi wa akhqoron naasi wa aqollunnaas, fa a’azzakumullahu bil islaam, fa mahmaa tathlubuunal ‘izzata bighirihi yudzillukumullohu azza wa jalla “. Al ‘izzah tidak akan kita capai kecuali dengan yang satu ini, yaitu islam. Sebagaimana rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam telah menjelaskan sejak empaat belas abad yang lalu : “ yuusikumul umam, ‘an tadaa’a kamaa tadaa’al akalatu ‘alaa qosh’atihaa, qiilaa; a min qillatin nahnu yauma idzin yaa rosuululloh ? qoola : bal antum yauma idzin katsiiiir, walaakinnakum gutsaa un ka gutsaa itsaili “. Dalam hadits lain dikatakan : “ sallathollohu ‘alaikum dzulla, laa yanzi’uhu hattaa tarji’uu ilaa diinikum “. HR. Abu Dawud. Selama kaum muslimin tidak tunduk dibawah syari’at yang telah Allah Ta’ala tetapkan melalui lisan nabiNya, selama kaum muslimin minder dengan islam yang menjadi agamanya, maka kehinaan tidak akan Allah Ta’ala angkat dari tengah-tengah mereka.

·         Uushikum bitaqwa yaa ‘ibaadallahi, karena taqwa adalah bekal seorang muslim yang paling utama di dunia dan akhirat, dan juga ku wasiatkan agar kita senantiasa menjaga diri sedapat mungkin untuk menghijab antara diri kita dengan apa yang diharamkan Allah Ta’alaa, karena semua itu akan menjadi penghalang bagi usaha dan perjuangan kita. Suatu ketika ‘Umar ibnul khoththob rodhiyallohu ‘anhu mengirim surat kepada salah satu panglima perangnya, Sa’ad ibn abi waqqoosh rodhiyallohu ‘anhumaa, isi suratnya adalah ; “ amma ba’du ; fa innii uushiika wa man ma’aka minal ajnaad bit taqwalloh ‘alaa kulli haalin, fa innat taqwa afdholul ‘uddah ‘alal ‘aduww, wa aamuruka wa man ma’aka minal ajnaadi an takuunuu aasysyaduhtiroosan minal ma’aashii minkum min ‘aduwwikum. Fa inna dzunuubal jaisyi akhwafu ‘alaihim min ‘aduwwihim, wainnamaa yunshorul muslimuuna bi ma’shiyati ‘aduwwihim lillah wa lau laa dzaalik lam takun lanaa bihim quwwah,lianna ‘adadanaa laisa ka ‘adadihim, walaa ‘uddatanaa ka uddtaihim, fa inistawaina nahnu wa iyyaahum fil ma’shiyyah kaana lahum fadhlun ‘alainaa fil quwwah, wa in laa nunshoru ‘alaihim fi fadhlinaa lam nughlibuhum biquwwatinaa . . . “. Sungguh siapapun kita, mesti memiliki tujuan dan cita-cita dalam hidup ini, yang tujuan dan cita-cita itu baik bersifat individu, seperti yang berkaitan dengan kepentingan pribadi, maupun bersifat universal, berkaitan dengan orang banyak. Dan kita akan merasa bahagia jika cita-cita atau tujuan tersebut benar-benar tercapai. Layaknya bagaikan tentara yang sedang berperang, kemenanganlah yang mereka harapkan. Akan tetapi ayyuhalikhwah baarokallohu fiikum, sudahkah kita mengumpulkan dua instrumen, dua perkara yang mesti ada untuk mencapai kemenangan atau keberhasilan tujuan dan cita-cita kita ? ; menempuh jalan yang mengantarkan pada kemenangan dan membentengi jalan tersebut agar tidak tercemar dengan cabang- cabang yang membuatnya rancu, sehingga dapat mengantarkan pada kecelakaan atau kegagalan total. Jalan yang akan mengantarkan kita pada kemenanga atau kesuksesan tujuan adalah ‘ilmu yang bermanfa’at dan amal sholih, adapun perkara yang perlu kita bentengi adalah berbagai hal yang akan menghambat turunnya pertolongan atau kemenangaLS

0 Komentar :