Minggu, 15 September 2013 - 06:44:35 WIB
Paparan Singkat Risalah Wasithiyah 1
Diposting oleh : Administrator
Kategori: Sunnah - Dibaca: 2789 kali

P E N D A H U L U A N

Sejatinya kitab yang akan kita pelajari merupakan kitab standar, dalam artian setiap pencari ilmu mempelajarinya sebelum “masuk” pada kajian kitab-kitab aqidah yang lainnya, ia merupakan kitab yang pada dasarnya murni sebagai bentuk buku paparan dan bukan bantahan, sehingga mudah dihafal oleh para pencari ilmu, terutama yang baru menapakan kakinya dijalannya orang-orang pilihan. Dialah kitab al Washitiyah, buah pena Syaikhul Islam taqiyuddin Ibnu Taimiyah rahimahullah.

Biografi Singkat

Syaikul Islam merupakan gelaran yang disematkan pada penulis kitab ini, adapun nama beliau Ahmad bin Abdul Halim bin Abdussalam Ibnu Taimiyah Al Harrani kemudian Dimasqi. Lahir pada hari Senin tanggal 10 atau 12 Robi'ul Awwal tahun 661 H. di Kota Harran, yaitu kota yang terletak di Timur Laut negeri Syam di Jazirah Ibnu Amru. Antara sungai Tigris dan Eufrat. Pada tahun 667 H beliau pindah bersama kedua orang tuanya ke Damaskus. Keluarga beliau adalah keluarga yang dikenal dengan kecintaannya kepada ilmu. Ayah dan kakek beliau seorang ulama terkemuka. Kakek beliau Al-Majd bin Taimiyah seorang ulama besar di zamannya, warisan kakek beliau adalah kitab 'Muntaqol Akhbar fi Ahaditsi Sayyidil Akhyar", demikian pula ayahnya, Syihabuddin Abdul Halim rohimahumulloh Ta'ala. Dan saudaranya Abu Muhammad, beliau seorang ulama ahli fiqih dari kalangan Hanabilah.

Beliau meninggal pada tanggal 26 Dzul Ao'dah tahun 728 H. Sebelum meninggal beliau sakit selama dupuluh hari lebih, kebanyakan orang tidak mengetahui tentang sakitnya, sehingga mereka sangat terkejut mendengar berita duka kematiannya rahiamulloh rohmatan wasi'atan.

Sebab Penulisan Risalah

Risalah ini ditulis dikarenakan adanya permintaan dari salah seorang hakim daerah  Washith di negeri Iraq.

Di dalam Majmu Fatawa (3\129) disebutkan : Salah seorang hakim negeri Washit meminta Syaikhul Islam rohimahulloh untuk menuliskan kitab aqidah yang bisa menjadi bekal baginya dan keluarganya, maka syaikh memenuhi permintaannya.

Beliau berkata di dalam Majmu Al-Fatawa (3\160) : "Maka aku menghadirkan kitab aqidah yang ditulis dari sejak tujuh tahun sebelum datangnya pasukan Tartar ke Syam ... (sampai perkataannya) …, kemudian aku mengutus orang untuk mengambilkan-nya dari rumahku, dan bersama kitab tersebut bagian dari buku dengan tulisanku. Maka “datanglah” al-aqidah al-washithiyah. Aku berkata kepada mereka : Sebab ditulisnya kitab ini adalah adanya seseorang hakim yang datang kepadaku dari daerah washith, disebutkan namanya : Rodiyuddin Al-Washithy penganut madzhab Syafi'i. Datang kepada kami dalam keadaan berhaji, dia merupakan ahli khoir dan dien. Dia mengadukan sesuatu yang telah menimpa manusia di negeri tersebut di bawah kungkungan Tartar, dari tersebarnya kebodohan, kedzoliman, serta terkuburnya agama dan ilmu. Ia meminta kepadaku untuk menuliskan aqidah yang bisa menjadi bekal baginya dan keluarganya. Maka awalnya aku enggan untuk memenuhinya, aku berkata kepadanya : 'Telah banyak para ulama yang menulis masalah 'aqo'id, maka ambilah sebagian kitab 'aqo'id yang telah ditulis oleh para imam sunnah, aku tidak bisa memenuhi permintaan anda'.  Dia menimpali perkataanku : 'Aku tidak menginginkannya kecuali kitab aqidah yang engkau tulis'. Maka aku-pun menuliskan kitab ini baginya, aku duduk ba'da ashar. Setelah itu tersebarlah nuskoh yang santat banyak, di Mesir, Iraq dan di selain keduanya'".

Di dalam al-Fatawa (3\194)  : Syaikh 'Ilmuddin mengutipkan bahwa as-syaikh semoga Alloh mensucikan ruhhnya berkata di dalam majlis para petinggi tatkala mereka bertanya kepadanya tentang aqidah yang dianutnya, maka syaikh menghadirkan kitab aqidahnya al-washithiyah kemudian berkata : 'Kitab aqidah ini aku menuliskannya sekitar tujuh tahun sebelum masuknya Tartar ke Syam'. Maka kitab tersebut dibacakan di majlis. Kemudian 'Ilmuddin mengutip dari as-Syaikh, bahwa beliau (Ibnu Taimiyyah) berkata : 'Sebab penulisan kitab ini adalah (datangnya) salah seorang hakim negeri  Washith, dari kalangan ahli khoir, ad-dien dan ilmu. Dia memintaku untuk menulis kitab aqidah baginya; sungguh aku telah berkata kepadanya : 'Para ulama, aimmah sunnah telah menulis tentang aqo'id, aku keberatan untuk memenuhi permintaan anda. Dia menyanggah alasanku : 'Aku tidak menginginkannya kecuali kitab aqidah yang engkau tulis'. Maka aku menuliskan kitab aqidah ini, aku duduk setelah ashar'.

Penulis kitab ini telah menamainya dengan 'Al-Aqidah Al-Washithiyah, sebagimana kutifan di atas, tatkala beliau berkata : 'Kemudian aku mengutus orang untuk menghadirkannya\mengambilkan-nya dari rumahku, dan bersama kitab tersebut karoris dengan tulisanku. Maka datanglah al-aqidah al-washithiyah'. Selesai. Dan kadang-kadang dimutlakan dan dikatakan (Al-Aqidah), sebagimana beliau berkata : 'Dan aku mengeluarkan kitab\buku, aku telah menghadirkannya bersama (Al-Aqidah)'. Beliau ('Ilmuddin) berkata di dalam Kitab Al-'Uqud tatkala beliau menyebutkan sebagian tulisan Ibnu Taimiyah, diantaranya : Al-Aqidah An-Najiyah; yang terkenal dengan sebutan Al-Washithiyyah.

Kandugan umum risalah

  1. Ushul ahli sunnah wal jama'ah di dalam masalah asma dan sifat
  2. Ushul ahli sunnah wal jama'ah di dalam masalah iman  
  3. Ushul ahli sunnah wal jama'ah di dalam masalah asma', al-ahkam dan tentang al wa'd
  4. Ushul ahli sunnah wal jama'ah di dalam masalah qodar
  5. Ushul ahli sunnah wal jama'ah tentang hari akhir dan segala sesuatu yang terjadi didalamnya, seperti hisab, syafa'at, mizan surga dan neraka
  6. Ushul mereka di dalam masalah karomah
  7. Ushul ahli sunnah wal jama'ah di dalam sikapnya dengan para pemimpin
  8. Ushul ahli sunnah wal jama'ah mengenai sahabat dan sikap mereka kepadanya
  9. Ushul ahli sunnah wal jama'ah di dalam masalah masdar talaqy
  10. Ushul ahli sunnah wal jama'ah di dalam masalah akhlak dan al-amru bil ma'ruf wan nahyi 'anil munkar
  11. Ushul ahli sunnah wal jama'ah di dalam masalah jihad dan menegakan syia'r-syi'ar yang dzohir
  12. Penutup risalah dengan mengungkapkan tingkatan dan  ahli sunnah wal jama'ah

                Penulis rohimahulloh tidaklah menyebutkan seluruh yang berkaitan dengan seluruh ushul ahli sunnah wal jama'ah. Akan tetapi beliau menyebutkan kebanyakan masalah yang dibutuhkan setiap muslim. Disana ada ushul-ushul yang besar lainnya, seperti usul mereka di dalam tauhid uluhiyyah, ushul mereka di dalam wala wal baro dan kufur dengan thogut.

Pecaturan politik di masa penulis

Risalah ini  ditulis setelah serangan raksasa Tartar ke Iraq, sebelum kedatangan mereka ke Syam. Zaman itu zaman banyaknya 'Asya'iroh, keringnya aqidah salaf dan zaman keterasingan bagi ahli sunnah. Maka tidak mengherankan, bila kita dapati kerasnya permusuhan sebagian besar penganut madzhab asya’irah di masa kita kepada Ibnu Taimiyyah, hal demikian sebagaimana kerasnya walaupun kita saksikan kalau ulama-ulama mereka memuji keilmuan Ibnu Taimiyyah rahimahullah.

Pujian Ulama[1]

Imam As-Subqi, Muhammad bin Abdil Bar As-Syafi'i berkata (W.777 H) :

والله يا فلان ما يبغض ابن تيمية إلا جاهل أو صاحب هوى فالجاهل لا يدري ما يقول وصاحب الهوى يصده هواه عن الحق بعد معرفته به

"Tidaklah membenci Ibnu Taimiyah kecuali seorang yang bodoh atau pengekor hawa nafsu, orang yang bodoh tidak mengetahui apa yang dia katakan, adapun pengekor hawa nafsu maka hawa nafsunya telah menghalanginya dari kebenaran setelah dia mengetahuinya".

Al-'Alamah Kamaluddin Ibnu Az-Zamalkani As-Syafi'i berkata (W. 767) :  "Jika dia ditanya tentang satu bidang ilmu tertentu maka yang melihat dan mendengar akan menyangka bahwa dia tidaklah mengetahui ilmu yang lain kecuali ilmu tersebut, dan akan menghukumi bahwa tidak ada seorang pun yang mengetahui seperti dia. Para ahli fiqih dari berbagai kelompok, jika mereka duduk bersamanya maka mereka mendapatkan faidah tentang madzhab mereka yang sebelumnya tidak mereka ketahui. Tidaklah diketahui, jika dia berdialog dengan seseorang kemudian dia kalah. Tidaklah dia berkata tentang suatu ilmu dari ilmu-ilmu, baik ilmu syar'i atau pun yang lainnya kecuali dia ahlinya di dalam ilmu tersebut dan dinasabkan kepada ilmu yang dia bicarakan".

Di dalam riwayat yang dikeluarkan Ibnu Rojab secara sahih dari Al-'Alamah Kamaluddin Ibnu Az-Zamalkani, beliau berkata:

ما ير من خمسمائة سنة أو قال أربعمائة سنة والشك من الناقل وغالب ظنه انه قال من خمسمائة سنة احفظ منه انتهى

"Tidaklah didapati semenjak 500 tahun atau 400 tahun – dan keraguan dari yang menukil dan berat prasangkanya bahwa dia berkata :  semenjak 500 tahun – yang lebih berilmu darinya".

Al-'Alamah Al-Imam Abul Fathi Muhammad bin 'Ali bin Wahb Ibnu Daqiqil 'Id  As-Syafi'i al-Maliki berkata (W. 702 H) :

لما اجتمعت بابن تيمية رأيت رجلا العلوم كلها بين عينيه يأخذ منها ما يريد ويدع ما يريد

"Tatkala aku bertemu dengan Ibnu Taimiyah, maka aku melihat seseorang yang seluruh ilmu ada di kedua pelupuk matanya, dia mengambil yang dia inginkan dan “meninggalkan” yang tidak dia inginkan".

Al-Hafidz Abul Hajaj Ad-Dimasqi As-Syafi'i berkata (W. 742 H) :

ما رأيت مثله ولا رأى هو مثل نفسه وما رأيت أحدا أعلم بكتاب الله وسنة رسول الله صلى الله عليه و سلم ولا أتبع لهما منه

"Aku belum pernah melihat orang sepertinya, dan dia sendiri tidak pernah pula melihat yang seperti dirinya, aku tidak melihat seorang pun yang lebih mengetahui kitabulloh dan sunnah rosululloh sholallohu 'alaihi wa sallam dan lebih mengikuti keduanya daripadanya".

Metode pemaparan matan

1.       Pemaparan penjelasan dengan poin-poin permasalahan, dengan tujuan mempermudah sampainya ilmu

2.       Jika dalam permasalahan terdapat silang pendapat maka pendapat yang kami pilih disebutkan paling terakhir dengan menyebutkan bantahan pada pendapat selainnya

3.       Didalam risalah ini disebutkan beragam jenis dari sifat Allah Ta’ala, dengan dibagi pada dua pembagian, sifat yang terdapat dalam al Qur’an dan sifat-sifat yang disebutkan dalam sunnah, karenanya jika sifat yang disebutkan dalam bagian al Qur’an disebutkan pula pada bagian sunnah, maka kami satukan pembahasannya.

 

(Bersambung)

 

Penting : Penjelasan ini kebanyakannya saduran dari beberapa penjelasan para ulama terhadap risalah al Wasithiyah, dan beberapa bahan bacaan yang penyusun miliki, sekali-kali bukan hasil jerih payah penyusun, ia merupakan jerih payah para ulama yang dirasakan dan dipetik oleh penyusun; seukuran kurangnya ilmu penyusun. Abu Abdussalam [Salah seorang thulaib di Ma’had Ihya As Sunnah Tasikmalaya].

 



[1]  Selengkapnya lihat Ar Roddu al Waafir ‘ala man za’ama bi anna man samma ibna taimiyah “Syaikhul Islam” kaafir, Ibnu Nashiruddin ad Dimasqiy Asy Syafi’i.  Yang ada pada kami cetakan keempat, al Maktabah al Islamiy.


0 Komentar :