Sabtu, 26 Oktober 2013 - 08:20:26 WIB
Paparan Singkat Risalah Wasithiyah 2
Diposting oleh : Administrator
Kategori: Sunnah - Dibaca: 3018 kali

Tulisan Kedua Risalah Al Washithiyah

 
Sebelum memasuki paparan singkat matan aqidah al Wasithiyah, kita akan sebutkan dulu keistimewaan kitab al Wasthiyah, mudaha-mudahan dengan mengetahuinya menjadi lebih semangat untuk mempelajarinya.
Pada paparan singkat risalah al Wasithiyah ini, kita akan memulai menguraikan perkataan penulis rahimahullah Ta’ala. Berikut beberapa keistimewaan Kitab Aqidah Al-Washithiyah (1) :

  1. Kandungan aqidah ini senantiasa bersandar kepada kitab Alloh Ta'ala dan Sunnah Rosululloh sholallohu 'alaihi wa sallam serta sesuatu yang telah diepakati oleh salaful umat dan para imamnya; dalam lafadz dan maknanya. Syaikhul Islam telah menjelaskan tentang keistimewaannya ketika berdialog dengan orang-orang yang mempermasalahkan kitab aqidah ini, beliau berkata : "Aku benar-benar memilih di dalam (kitab) aqidah ini; ia hanya mengikuti kitab dan sunnah". beliau berkata pula : "Setiap lafadz yang aku menyebutkannya, maka aku sebutkan baginya ayat, atau hadits, atau ijma para salaf".

  2. Kandungan risalah yang berkah ini merupakan hasil dan buah penelitian Syaikhul Islam rohimahulloh terhadap perkataan para salaf. Dan merupakan hasil studi kritis pada perkataan mereka di dalam pembahasan nama-nama Alloh dan sifat-sifat-Nya, hari akhir, iman, qodar, sahabat dan yang lainnya dari permasalahan usul dan i'tiqod. Beliau rohimahulloh berkata tentang aqidah ini : "Tidaklah aku mengunpulkan kecuali aqidah as-salaf as-shalih, seluruhnya".

  3. Penulis rohimahulloh telah mencurahkan kemampuan dan kepiaweananya di dalam menguraikan metode kelompok yang selamat, yang ditolong, ahlu sunnah wal jama'ah di dalam aqidah ini, uraian yang sangat jelas lagi mendalam. Sehingga beliau berkata : "Aku menantang seluruh orang yang menyelisihiku di dalam aqidah ini selama tiga tahun. Jika dia datang dengan satu huruf saja dari salah satu kurun yang tiga yang Nabi sholallohu 'alaihi wa sallam telah memuji mereka … menyelisihi sesuatu yang aku sebutkan, maka aku akan kembali dari hal itu". Beliau rohimahulloh berpaling dari menggunakan sebagian lafadz-lafadz yang terkenal, seperti tahrif, tasybih dan selain keduanya; karena lafadz-lafadz tersebut tidak disebutkan di dalam al-Kitab dan as-Sunnah. Walaupun kadang-kadang yang dimaksudkan dengan lafadz tersebut merupakan makna yang sahih.

  4. Dengan sedikit dan ringkasnya akidah yang berkah ini, ia telah mencakup dari kebanyakan masalah aqidah dan usul iman, serta telah disertakan di dalam kitab ini tentang jalan yang ditempuh ahlu sunnah wal jama'ah di dalam amasalah amal dan akhlaq.

  5. Kitab aqidah ini telah diterima oleh ahli ilmu sejak dulu dan juga sekarang. Para ulama memuji kitab ini dan menyebutkannya dengan kebaikan. Adz-Dzahabi rohimahulloh di dalam perkataannya tentang risalah ini : "Telah terjadi kesepakatan bahwa kitab ini berisi aqidah salafiy yang sangan bagus". Ibnu Rojab rohimahulloh berkata : "Telah terjadi kesepakatan bahwa kitab ini berisi aqidah suniyyah salafiyah". Syaikh Abdurrohman As-Sa'di rohimanulloh berkata tentang kitab ini : "Kitab ini dengan singkat dan jelasnya telah mengumpulkan segala sesuatu yang wajib diyakini di dalam usul iman dan keyakinan-keyakinannya yang sahih".

Sekarang mari kita memulai mempelajari kitab al Washitiyah. Penulis, Syaikhul Islam Ahmad bin Abu Abdul Halim rahimahullah berkata :
بسم الله الرحمن الرحيم.
"Dengan nama Alloh Yang Maha Pengasih Lagi Maha Penyayang".
Pertama : Kenapa Ibnu Taimiyah Memulai Risalahnya dengan Bissmillah ?
Penulis rohimahulloh memualai risalah yang berkah ini dengan bismillah karena :
  1. Mengikuti kitabulloh; Karena bismillahirrhmanirrahim merupakan ayat pertama dari surat al Fatihah; dan inilah pendapat yang benar. Para sahabat rodiyallohu'anhum memulai mushaf utsmani dengannya. Kemudian seluruh manusia diseluruh negri yang menulis mushaf setelah mereka mengikutinya.
  2. Mengikuti petunjuk nabi sholallohu 'alaihi wa sallam di dalam tulisan-tulisan dan suratnya. Seperti surat beliau kepada Hiroql pembesar negeri Romawi, sebagimana datang penyebutannya di dalam hadits Abi Sufyan rodiyallohu'anhu di awal kitab Sahih Bukhori. 
  3. Mengikuti kebiasaan para ulama ketika memulai menulis kitab atau risalah singkat. Sebagaimana diungkapkan oleh Ibnu Hajar dalam Fathul Bari.
          Adapun haditas "Setiap urusan penting yang tidak dimulai dengan ببسمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ maka terputus merupakan hadits yang dlho'if wahin. Oleh karenanya lebih dari seorang ulama yang telah memastikan tentang kelemahannya, diantaranya : Al-Hafidz Ibnu Hajar, As-Syakhowi, dan yang lainnya.

Kedua : Kesepakatan Ulama

  1. Para ulama sepakat bahwa bismillah merupakan bagian dari surat An- Naml ayat : 30.
  2. Mereka sepakat pula untuk tidak mencantumkannya pada awal surat baro-ah, karena surat baro-ah dengan surat Al anfal dianggap\seakan-akan dijadikan satu surat.

Ketiga : Ikhtilaf Ulama Tentang Bismillah

       Ulama berbeda pendapat Tentang bismillah; apakah ia merupakan ayat dari setiap surat yang surat-surat tersebut dibuka dengannya ? atau ayat tersendiri yang diturunkan untuk memisahkan antara surat-surat dan tabarruk memulai dengannya ?. Dari pendapat-pendapat tersebut yang terpilih adalah pendapat yang kedua (2).
       Kecuali bismillah dalam surat al Fatihah, maka menurut pendapat yang benar, ia merupakan bagian dari surat al Fatihah, hal demikian karena telah adanya hadis sahih yang menyebutkan demikian. Allohu ‘Alam.

Kemudian penulis rahimahullah berkata :

قال المصنف :  الحمد لله الذي أرسل رسوله بالهدى ودين الحق ؛ ليظهره على الدين كله ، وكفى بالله شهيداً , وأشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له إقراراً به وتوحيداً , وأشهد أن محمداً عبده ورسوله صلى الله عليه وعلى آله وسلم تسليماً مزيدا .

 

"Segala puji bagi Alloh yang telah mengutus Rosul-nya dengan huda dan dien al-haq untuk memenangkannya atas semua agama seluruhnya, serta cukuplah Alloh sebagai saksi. dan aku bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang benar kecuali Alloh yang tiada sekutu baginya, seraya mengikrarkan [dengan hati dan lisan] dan mengesakannya dengan hal tersebut. dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan rosul-nya, dan mudah-mudahan sholawat Alloh atasnya r, keluarga dan sahabatnya; dan mudah-mudahan keselamatan atasnya dengan keselamatan yang terus bertambah".

Penjelasan Global :
       Ini merupakan muqoddimah penulis rohimahulloh. Ringkasannya : Penulis memuji dan menyanjung Alloh dengan pengutusan para Rosul-Nya, yang akhir urusan mereka ditutup dengan kemenangan, kemudian beliau bersyahadat/bersaksi.
       Penulis rohimahulloh tidak memuali dengan khutbatul hajah. Kalimat-kalimat di atas dianggap sebagai muqoddimah yang singkat.


Perkataan penulis : "Segala puji bagi Alloh (alhamdulillah)".

Masalah Pertama : Setelah bismillah penulis mengikutinya dengan hamd (pujian) dan tsana (sanjungan) kepada-Nya, di dalam perkataannya "Alhamdulillah". Beliau menyanjung Alloh dengan perkataannya "Dialah yang mengutus Rosul-Nya dengan hidayah … serta cukuplah Alloh sebagai saksi", ini dinamakan tsana (sanjungan).
Perbedaan antara al-hamd dan tsana diketahui jika keduanya terkumpul (pada satu kalimat) : Al-Hamd adalah mengucapkan "alhamdulillah". Tsana adalah menyebutkan nama-nama Alloh dan sifat-sifat-Nya dan mentasniyahkannya; Mengulang-ngulangnya. Sebagai contoh jika seseorang mengucapkan setelah ucapannya "Alhamdulillah" perkataan "Robbil 'alamin" maka ini disebut tsana. Contoh lain "Ar-Roman nirrohim" ini pun disebut tsana. Imam Muslim meriwayatkan bahwa nabi sholallohu 'alaohi wa sallam jika berkhutbah beliau memuji dan menyanjung Alloh. Memuji Alloh : Yaitu ucapan "al-hamdulillah", dan menyanjung-Nya, yakni mengulang-ngulang nama-nama dan sifat-sifat. ini pun hukumnya sunnah. Ibnul Qoyyim berkata di dalam kitab (Zadul Ma'ad Juz 1) : Petunjuknya sholallohu 'alaihi wa sallam di dalam berkhutbah, bahwa beliau memulainya dengan al-hamd, tsana kemudian syahadah.
Penulis berkata ((Dan aku bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang benar kecuali Alloh yang tiada sekutu bagiNya, aku mengikrarkan [dengan hati dan lisan] seraya mengesakannya dengan hal tersebut. Dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan Rosul-Nya)) ini juga hukumnya sunnah, yakni bersyahadat/bersaksi. Sebagiamana Al-Azury meriwayatkan di dalam As-Syari'ah di dalam bab fadoilus shohabat, tatkala menyebutkan keutamaan Ali, bahwa dia jika berbicara maka bersyahadat …. Dia berkata : Jika salah seorang dari kalian akan berbicara kepada mereka maka bersyahadatlah.


Masalah kedua : Huruf 'alif dan 'lam' di dalam kata "alhamdu" lilistigroq, yaitu : Seluruh pujian hanya milik Alloh 'azza wa jalla.
Al-hamd adalah : Sanjungan dengan sifat-sifat yang indah/terpuji dibarengi kecintaan. Inilah titik perbedaan antara al-hamdu dengan al-madhu, Al-hamdu adalah menyebutkan sifat-sifat yang terpuji. Al-madhu menyebutkan sifat-sifat yang terpuji, akan tetapi al-hamdu dikaitkan dengan al-mahabbah.
Perkataannya : (lillah). Huruf lam di dalam kata "lillah" lilmilki dan istihqoq (untuk menyatakan milik dan hak). Jadi maknanya : Seluruh pujian yang mutlaq hanyalah milik dan hak Allah Ta’ala.
Lafadz "Alloh" merupakan nama Dzat Alloh subhanahu wa ta'ala pemilik ketuhanan. Ia merupakan nama dan makna lagi mustaq dari sifat uluhiyyah. Lafadz Alloh merupakan 'Aroful ma'arif 'alal itlaq [Nama yang paling diketahui secara mutlaq]. Ibnul Qoyyim membicarakannya di dalam "Nuniyah" tentang lafdzul jalalah (Alloh), apakah ia jamid ataukah musytaq ? Beliau berkata : Yang benar mustaq, ini merupakan madzhab ahlu sunnah wal jama'ah mengenai lafdzul jalalah dan yang lainnya dari nama-nama Alloh.


Masalah ketiga :
Perkataannya : "Yang telah mengutus Rosul-Nya". Perkataannya "Rosulnya", ia mufrod yang mudhlof; Rosul mudlhof, huruf 'ha' mudlhofun ilaih. Kaidah menyebutkan bahwa mufrod mudhof : Ia bagian dari lafadz umum; maka yang dimaksud dari perkataan beliau ini adalah jinsu ar-Rosul (jenis Rosul). (Dan) ada kemungkinan lain, bahwa penulis memaksudkan al-khusus, yakni nabi kita Muhammad sholallohu 'alaihi wa sallam. Kemungkinan kedua yang lebih mendekati.
Pengertian Rosul : Seorang laki-laki yang diwahyukan kepadanya dan diutus kepada umat yang baru, atau kepada umat yang kafir. Mereka menyeru kepada tauhid dan untuk meta'ati Alloh 'azza wa jalla. Dia datang kepada mereka dengan syari'at yang baru. Ia lebih khusus daripada nabi.
Adapun Nabi adalah: Seorang laki-laki yang diwahyukan kepadanya dan diperintahkan untuk menyampaikan, akan tetapi dia berada di atas syari'at nabi yang sebelumnya, inilah yang kuat di dalam pengertian Nabi. Yang menunjukkan bahwa nabi itu di utus adalah : firman-Nya Ta'ala : "Maka Alloh menutus para nabi sebagai pemberi kabar gembira dan sebagai pemberi peringatan". Dan firman-Nya : "Dan kami tidak mengutus sebelum kamu seorang rasulpun dan tidak (pula) seorang nabi, melainkan apabila ia mempunyai sesuatu keinginan, syaitanpun memasukkan godaan-godaan terhadap keinginan itu, Alloh menghilangkan apa yang dimasukkan oleh syaitan itu, dan Alloh menguatkan ayat-ayat- nya. dan Alloh Maha mengetahui lagi Maha Bijaksana". Disana ada pendafat yang terkenal namun tidak sesuai dengan al-Kitab dan as-Sunnah, yakni perkataan mereka : Bahwa nabi adalah seorang laki-laki yang diwahyukan kepadanya dan tidak diperintahkan untuk menyampaikan. Kesalahannya terletak pada perkataan mereka : "Tidak diperintah untuk menyampaikan". Pendapat ini telah terbantah dengan dalil-dalil sebelum ini.


Masalah keempat :
Perkataannya : "bil huda 'Dengan al-huda'", huruf 'ba' merupakan huruf jar, ia berfungsi untuk menyatakan mushohabah (menyatakan beserta). Perkataannya "al-huda 'hidayah'" memiliki dua pengertian : pengertian yang umum dan pengertian yang khusus. Adapun perkataan penulis adalah pengertian yang khusus, karena ia athof kepada kata 'ad-dien. Maka yang dimaksud di sini adalah : Ilmu yang bermanfa'at.
Adapun makna yang umum bahwa kata 'hidayah' dimutlakan atas ilmu yang bermanfa'at dan amal shalih.


Masalah kelima
Perkataannya : "Dienul haq 'Agama yang benar". Huruf 'wau' lilmughoyaroh (untuk menyatakan berbedanya makna sesuatu; antara kata yang pertama dengan kata yang kedua). Kata 'dien' disini bermakna : al-'amal. Sebagimana perkataan : 'Sebagimana engkau beramal begitulah engkau dibalas'.
Kata 'ad-dien' kadang datang dengan makna amal, balasan dan kadang pula bermakna ilmu, tetapi disini tidaklah ditafsirkan dengan makna ilmu; karena 'huda' adalah ilmu. Karena huruf 'wau' lilmugnoyaroh.


Masalah keenam
Perkataannya : "liyudzhirohu 'untuk menampakannya'". Huruf 'lam' lita'lil; yakni : memiliki makna 'kay (menyebutkan alasan [supaya])'. Ini merupakan bagian alasan dari diutusnya rosul. Diantara yang lainnya adalah sebagi pemberi hidayah (irsad) bagi manusia, menyelamatkan mereka, memperbaiki mereka … dan seterusnya.
Adz-dzuhur (meninggikan/memenangkan) terbagi dua :

  1. Nampak/menang dengan hujjah dan bayan (penjelasan).
  2. Nampak/menang dengan pedang dan tombak.


Pertanyaan : Apakah kemenangan ini terealisasi bagi agama ini ?
Jawab : Adapun menang dengan penjelasan dan hujjah maka akan senantiasa terealisasi selamanya, dari Mughiroh bin Syu'bah dari Nabi Sholallohu 'alaihi wa sallam, beliau berkata : "Akan senantiasa ada kelompok dari umatku dalam keadaan Nampak/menang, sehingga datang kepada mereka urusan Alloh; dan mereka menang". Bukhori dan Muslim meriwayatkannya dari sejumlah para sahabat.

       Adapun menang dengan pedang dan tombak maka kadang terjadi dan kadang tidak terjadi. Berbeda-beda seukuran berpegang teguh dengan agama ini, untuk suatu hikmah qodariyah yang besar. Bagi-Nya lah segala urusan, sebelum dan sesudahnya. Akan tetapi (bagaimana pun keadaannya –pen) kesudahan yang baik itu hanya bagi ahli sunnah wal jama'ah. Telah ada daulah bid'ah, akan tetapi seslesai sampai hilang.

       Nagara mu'tazilah telah berkuasa pada awal kurun yang kedua, dan pada zaman al-Ma'mun, al-Mu'tashim dan al-Watsiq; Akan tetapi terpukul pada zamannya al-Mutawaqil – dengan keutamaan dari Alloh –. Al-'Asya'iroh, mereka memiliki kekuatan pada kurun kelima dan keenam, akan tetapi mereka terkubur setelah itu. Ar-Rofidhoh, mereka memiliki daulah pada masa al-Qoromithoh di Mesir dan Maghrib, akan tetapi mereka terkubur setelah itu. Itu semua berakhir dengan pertolongan bagi Ahli Sunnah wal Jama'ah.


Masalah ketujuh :
Perkataanya : " 'aladieni kullihi' 'atas agama seluruhnya' ". Yakni atas seluruh agama dan keyakinan-keyakinan yahudi, nasroniyyah atau pun berhalaisme. Hadits Tsuban menunjukkan hal ini, Rosululloh sholallohu 'alaihi wa sallam bersabda : "Sesungguhnya Alloh telah mengecilkan bumi kepadaku, maka aku melihat timur dan baratnya, dan kekuasaan umatku akan sampai pada yang telah dinampakan\dikecilkan kepadaku". (HR. Muslim).


Masalah kedelapan :
Perkataannya : " أشهد أن لا إله إلا الله 'Aku bersaksi bahwa tidak ada yang disembah dengan benar kecuali Alloh'". Perkataannya "Asyhadu 'aku bersaksi'", yakni : Aku mengikrarkan, mengakui dan mengamalkan tuntutan hal tersebut; karena lailahailalloh itu perkataan dan keyakinan. Asyahadah adalah : pengikrarkan dan pengakuan disertai amal.
Perkataan penulis : "Aku bersaksi bahwa Muhammad … sampai pada akhir muqoddimah".
Kata asyhadu disini seperti makna kata asyahdu yang pertama. Perkataannya " 'abduhu wa rosuluhu 'hamba dan utusannya'" : Beliau rahimahulloh mengumpulkan dua sifat bagi ar-Rosul (Nabi Muhammad), sifat ar-risalah dan al-'ubudiyyah. Makna ar-rosul telah berlalu.

Masalah kesembilan :
Perkataannya : "Sholallohu 'alaohi …". Penulis mengumpulkan antara sholawat dan salam, ini disyari'atkan. Perkataannya "sholla" : Maknanya berbeda-beda ditinjau dari yang mengatakannya. Jika dari Alloh maka bermakna tsana (sanjungan) pada Rosululloh sholallohu 'alaihi wa sallam. Imam Bukhori di dalam kitab Sahihnya menyebutkannya dari Abu 'Aliyah. Jika dari makhluk maka bermakna du'a. Imam Bukhori di dalam kitab Tafsir berkata : Bab, Sesungguhnya Allah dan malaikat-malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi. Hai orang-orang yang beriman, bershalawatlah kamu untuk nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya. Abu 'Aliyah berkata : Sholawat Alloh kepadanya adalah sanjungan-Nya dihadapan para malaikat, sholawat malaikat adalah du'a, Ibnu Abbas berkata : mereka bersholawat dan memohonkan berkah. Selesai.


Pertanyaan : Apa hukum sholawat kepada Rosul sholallohu 'alaihi wa sallam ?
Jawab : Adapun ketika sholat maka Imam Ahmad menghitungnya sebagi rukun di dalam tasyahud, Jumhur memandangnya sunnah. kita tidak bermaksud membahas masalah ini secara terperinci.
Adapun diluar sholat : Seabagian para ulama menyatakan wajib (3), berdasarkan firman-Nya Ta'ala "Hai orang-orang yang beriman, bershalawatlah kamu untuk nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya", dan "shollu 'sholawatlah !' amr 'perintah' yang berakibat wajib, berdasarkan hadits Husain bin 'Ali bin Abi Tholib, Rosululloh sholallohu 'alaihi wa sallam bersabda : "Orang yang bakhi itu adalah orang yang namaku disebutkan di sisinya dan dia tidak bersholawat kepadaku" At-Tirmidzi berkata : Hasan sahih Ghorib.
      Para ulama yang berpendapat wajib terbagi dua pendapat :
        Pertama : Mereka yang berpendapat wajib satu kali seumur hidup. Mereka beralasan : Inilah asal di dalam perintah, ia tidak menuntut berulang kecuali dengan adanya qorinah. Kedua : Mereka yang berpandangan wajib setiap disebu namanya sholallohu 'alaihi wa sallam.
     Pendapat kedua : Sunnah di selain sholat, ini pendapat yang lebih mendekati kebenaran. Yang memalingkan dari wajib adalah sabdanya sholallohu 'alaihi wa sallam di dalam hadits sahih "Maka katakanlah oleh kalian seperti yang dikatakan mu'adzin", andaikan saja sholawat itu wajib maka wajib tatkala disebutkan Rosululloh asholatu 'alaih (bershalawat kepadany).
Masalah ini dibahas oleh Ibnul Qoyyim di dalam 'Jalalul Afham', Asyaukani di dalam 'Nailul Author', dan juga datang hadits dari sebagian sahabat, bahwa dia berkata : Ya Rosululloh, dan mereka tidak bersholawat tatkala mengatakan demikian, Nabi sholallohu 'alaihi wa sallam mentaqrir/menyetujui mereka.

Pertanyaan : Apakah sholawat dan salam haknya yang mendengar ataukah yang berkata/mengucapkan ?
Jawab : Dzohir nas meliputi seluruhnya, kecuali jika keadaan dia menafikan kemestian sholawat dan salam atasnya sholallohu 'alaihi wa sallam; seperti keadaan dia berada di kamar mandi, karena dimakruhkan menyebut nama Alloh di durotul air. Berdasarkan hadits Anas. Beliau berkata : "Keadaan Nabi sholallohu 'alaihi wa sallam jika masuk WC maka beliau meletakan cincinnya". Ibnu Hibban menshahihkannya, Abu Daud meriwayatkannya dan berkata : Hadits ini munkar, hanya saja yang dikenal dari Ibnu Juraiz dari Ziyad bin Sa'd dari Zuhri dari Anas "Bahwa Nabi sholallohu 'alaihi wa sallam membuat cincin dari perak kemudian melemparkannya". Al-wahmu dari hamam, mereka tidak meriwayatkan keculai hamam (kamar mandi). Atau ketika sedang sholat, berdasarkan hadits Ibnu Mas'ud secara marfu' "Sesungguhnya kesibukan itu ada di dalam sholat", mutafaqun 'alaih. Dan yang lainnya di dalam tempat-tempat yang lain yang tidak sesuai. Inilah pembahasan sholawat, maknanya dan hukumnya.
       Adapun untaian sholawat yang paling utama adalah sholawat yang ada di dalam sunnah. Jika di dalam sholat maka sudah diketahui bersama, adapun diluar sholat maka ucapan "sholallohu 'alaihi wa sallam"; Jika saja berkata : "Allohumma sholla 'ala Muhammad" dan yang semisalnya dalari kalimat-kalimat maka tidaklah mengapa. Tapi jika saja dengan lafadz yang warid maka lebih utama. Tidaklah disunnahkan untuk menulis dengan rumus (Sho) semata atau yang lainnya dari rumus-rumus. Bahkan yang sunnah menulisnya dengan sempurna, Imam Nawai menyebutkannya di dalam muqoddimah Syarhu Sahih Muslim. Yang disyari'atkan mengatakannya, andaikan menggabungkannya dengan tulisan maka lebih baik.
Pertanyaan : Ucapan salam, apakah maknanya sama dengan sholawat ? –yakni dari Alloh tsana dan dari makhluk bermakna du'a– ?
Jawabannya : As-Salam selamnaya di'athofkan pada sholawat, kaidah asal bahwa athof dengan huruf 'wau' menuntut al-mughoyaroh; Maka as-Salam bukanlah as-sholat ini satuannya. Kemudian di dalam ayat hanya disebutkan sholawat dari Alloh saja "Sesungguhnya Alloh dan malaikat-Nya bersholawat kepada nabi" kemudian berfirman "Hai orang-orang yang beriman, bershalawatlah kamu untuk nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya" maka ditambahkan as-salam.
An-Nasai meriwayatkan di dalam 'Sunnahnya' : bab keutamaan menucapkan (at-taslim) keselamatan atas nabi sholallohu 'alaihi wa sallam, dari Abdulloh bin Abi Tholhah dari bapaknya, bahwa pada suatu hari Rosululloh sholallohu 'alaihi wa sallam dengan wajah mencerminkan kegembiraan, kami berkata :'Sesungguhnya kami melihat rona kegembiraan di wajah anda, beliau bersabda : "Sesungguhnya Malaikat mendatangiku, ia berkata : 'Wahai Muhammad, sesungguhnya Robb-Mu berfirman : Tidakah membuatmu ridlho, bahwa tidaklah bersholawat kepadamu kecuali aku bersholawat atasnya sepuluh, dan tidaklah seseorang mengucapkan salam kepadamu kecuali aku mengucapkan salam atasnya spuluh kali".
      Ibnu Taimiyah di dalam kitab "Ar-Rodd 'alal Bukairi" 1\236 berkata : "Dan kebenaran yang hanya bagi Alloh dan Rosulnya adalah tetap setelah meninggalnya Rosululloh, demikian pula sesuatu yang yang menjadi hak-haknya (sholallohu 'alaihi wa sallam) – yang mungkin tetepnya – seperti sholawat atasnya, salam, menolong dan memuliakannya, maka hal itu tidaklah berkurang setelah wafatnya sholallohu 'alaihi wa sallam, bahkan dikuatkan dan ditekankan. Selesai. Yang dimaksud adalah : bahwa beliau menjadikan as-salam merupakan hak yang berdiri sendiri seperti sholawat, maka nampaklah perbedaan.
       Beliau berkata di dalam Al-Fatawa 27/321 : Jika dia datang ke masjidnya (sholallohu 'alaihi wa sallam) maka hendaknya ia mengucapkan salam dan bersholawat kepadanya. Mengucapkan salam kepadanya di dalam sholat dan bersholawat pulalah di dalamnya. Sesungguhnya Alloh berfirman : "Sesungguhnya Alloh dan malaikat-Nya bersholawat kepada nabi, Hai orang-orang yang beriman, bershalawatlah kamu untuk nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya". Barangsiapa bersholawat kepadanya sekali maka Alloh akan bersholawat kepadanya sepuluh kali, dan barangsiapa yang mengucapkan salam kepadanya maka Alloh bersalam kepadanya sepuluh kali. Selsesai.
Makna as-salam kepadanya (sholallohu 'alaihi wa sallam) dari makhluk adalah : Mendo'akannya dengan keselamatan. As-salam terbagai kepada dua :

  1. Salam yang didengar : salam ini adalah salam yang diucapkan kepada nabi sholallohu 'alaihi wa sallam di dekat kuburnya, maka nabi sholallohu 'alaihi wa sallam mendengar salam ini dan membalas kepadanya. Salam seperti ini bermakna penghormatan. Dinamakan –pula- salam kepada yang hadir, maka ini bukanlah kekhususan shoalallohu 'alaihi wa sallam. Setiap mayit muslim, jika ada yang datang ke kuburnya dan mengucapkan salam kepadanya, maka mereka membalasnya.
  2. Salam ma'rudh : maksudnya jika mengucapkan salam kepada nabi di seluruh tempat jauh dari kuburnya, maka Nabi sholallohu 'alaihi wa sallam tidaklah mendengarnya, akan tetapi salam tersebut dihaturkan dan disampaikan kepadanya oleh Malaikat. Sebagimana hadits dari Abdulloh, Rosululloh sholallohu 'alaihi wa sallam bersabda : "Sesungguhny Alloh memilki Malaikat yang berkeliling di bumi, mereka menyempaikan salam umatku kepadaku" Riwayat An-Nasai.
           Ibnu taimiyah sebagimana di dalam "Minhajus Sunah" berkata : Akan tetapi jika bersholawat dan mengucapkan salam kepadanya dari jauh, maka disampaikan. Dan jika mengucapkan salam kepadanya dari dekat maka beliau mendengar salam seorang muslim kepadanya. Salam seperti ini dinamakan : As-salam 'alal ghoib atau as-salam 'alaihi 'alal ghoyibah. Sebagian para ahli ilmu menjadikannya sebagai kekhususannya.

       Adapun as-salam bersama tidak adanya yang diarahkan salam kepadanya (as-salam ma'al ghoibiyah) kepada salah seorang selain para nabi, sebagai syi'ar dan kebiasaan maka bukanlah bagian dari sunnah bahkan merupakan bagian dari bid'ah. Lihat Al-Fatawa 27\411.
Disunnahkan menggabungkan sholat dan salam kepada Rosul, berdasarkan ayat : "Bersholawatlah kepadanya dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya".
Disunnahkan menggabungkan sholat dan salam kepada Rosul, berdasarkan ayat : "Bersholawatlah kepadanya dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya".
Penulis berkata : "Wa 'alihi" (al-Ali) pengertiannya berbeda dengan berbedanya konteks kalimat. Inilah yang mengumpulkan perbedaan ulama di dalam menafsirkan (ali). Disini (al) memiliki arti yang umum : Maka menjadilah 'ali' bermakna pengikut agamanya. Jika 'ali' disebutkan bersama al-mu'minin maka 'ali' bermakna ahli baitnya/keluarga dan kerabatnya. Jika 'ali' disebutkan bersama ahli baitnya maka yang dimaksud dengannya adalah keturunannya sholallohu 'alaihi wa sallam.
Selesailah muqoddimah penulis.


----------------------------
1Lihat Syarhu Al-Aqidah Al-Washithiyah, Syaikh Kholid bin Abdulloh Al-Mushlih.
----------------------------
2 Syarhu Al-Washithiyah, Syaikh Holil Harros. Syaikh Abdurrozaq 'Afifiy rohimahulloh berkata : "Ia merupakan syarah yang paling baik, paling mudah dan yang paling ringkas ungkapannya".
----------------------------
3 Ini merupakan pendapat yang pertama.
----------------------------

 

 

(Penyadur : Abu Abdussalam [Thulaib di Ma’had Ihya As Sunnah Tasikmalaya). 


0 Komentar :